Saturday, March 17, 2018

Sebuah Nama Yang Merubah Pandangan



Ucrit... yah.. itu adalah sebuah nama kucing hitam kecil kesayangan anakku Shiva, tidak ada yang istimewa dengan nama itu, itu hanya sebuah nama yang spontan diberikan kepada anak kucing yang nyasar keteras rumah ditinggakan induknya atau mungkin juga tertinggal, dia hanyalah kucing kampung, kecil, warna hitam, mata hitam, rambut jigrak sedikit mirip kucing mahal Angora.

Kisah ini dimulai ketika ada anak kucing mengeong-ngeong didepan rumah kamis malam Jum'at sekitar tanggal 1 February 2018, namun ketika Istriku dan anakku keluar untuk mencarinya kucing itu terdiam, lalu kami semua masuk lagi kedalam rumah dan kemudian suara itupun terdengar lagi, sampai 3 kali kami keluar rumah namun hasilnya nihil, kami tidak menemukan si pemilik suara yang mengeong-ngeong sepanjang malam hingga pagi tiba.

Pagi itu suara kucing itu masih terdengar dan akhirnya kami menemukan kucing kecil berwarna hitam, dengan sorot matanya yang tajam dia melihat kearah kami seperti ketakutan, kemudian kucing itu kami ambil dan Istriku memberikannya susu formula dengan perlahan-lahan dia meminumnya, sepertinya umur kucing itu baru beberapa hari, karena cara kucing itu berjalan masih belum tegak.

Aku hanya melihat saat mereka dengan suka cita memberi minum kucing itu susu formula, tidak ada perasaan apa-apa terhadap kucing itu, karena aku tidak suka kucing, aku benci kucing, mereka sering mencakar jok motorku ketika malam dia tidur di jok motor, tidak ada rasa iba terhadap kucing itu, sampai aku memberikan ultimatum kepada anak dan istriku untuk tidak memeliharanya didalam rumah, aku merasa jijik membayangkan kucing itu berkeliaran didalam rumah, tidur sembarangan dikasur hingga meninggalkan bulunya dan bau amis sisa makanan serta sisa dia pipis atau BAB, apalagi kalau sampai kucing itu BAB dan pipis sembarangan aku pasti tidak segan-segan mengusirnya.

Hari demi hari istri dan anakku memelihara kucing itu dengan penuh perhatian, mereka memberinya makan, minum dan bahkan Shiva anakku merelakan kasur Barbienya untuk tidur kucing itu, mereka semakin sayang dengan kucing itu bahkan saat malam tiba dan kucing itu sudah tidur Shiva menyelimutinya dengan kain, Shiva sangat menyayanginya dan dia memberikannya nama "Ucrit", anakku yg kedua Azam 4th juga menyukainya walaupun terkadang Ucrit diperlakukan seperti mainan oleh Azam, aku hanya memperhatian dari jauh, karena jangankan dipegang untuk sekedar menyentuhnya saja aku tidak mau, bahkan jika aku sedang bekerja dan kucing itu mendekat aku panggil Shiva untuk membawanya pergi, walaupun sebenarnya aku tahu kucing itu takut padaku, aku sering menghardiknya, menyuruhnya pergi, bahkan menyiprat Ucrit dengan air agar dia menjauh dariku.

Sudah menjadi kebiasaan rutin setiap hari Istriku memberikannya makan setiap pagi, Shiva memberikannya makan siang hari dan malamnya Istriku atau Shiva yang memberinya makan, aku kebagian tugas membeli makanan/ikan buat dia makan, Ucrit semakin akrab dengan anak-anakku, bermain dengan mereka terkadang tidur dipangkuan Shiva atau Azam, Istriku mengajari Ucrit supaya tidak BAB atau pipis sembarangan dan hasilnya selama beberapa minggu dirumah kucing itu sudah mengerti, tidak sekalipun kucing itu BAB atau pipis dikasur, dia pernah sekali BAB didepan kamar mandi yang membuatku marah, itupun karena aku yang salah telah menutup pintu kamar mandi saat Ucrit sedang diruang tengah, selanjutnya tidak pernah lagi dia melakukan seperti itu.

Seiring berjalannya waktu akupun mulai terbiasa melihat pemandangan itu, aku jadi terbiasa melakukan pekerjaan rumah di temani  Azam dan Ucrit, anakku Shiva sangat menyayanginya, bahkan Ucrit bisa sedikit mengurangi hoby Shiva bermain Gadget, tidak jarang dia meletakan Gadget hanya untuk bermain bersama Ucrit, akupun mulai berdamai dengan keadaan, ketika Shiva memintaku membuatkan kandang untuk Ucrit tidur kalau malam, dengan alasan karena diluar cukup dingin jika tidak dibuatkan kandang kasihan Ucrit kedinginan, akhirnya akupun menyanggupinya dan membuatkan kandang untuknya tanpa pintu, setiap pagi Ucrit membangunkan kami melalui jendela kamar dengan mengeong-ngeong sambil mencakar-cakar kaca, kamipun bangun dan mengerti tugas salah satu dari kami untuk memberinya makan.

Kucing itu lucu... terkadang dia seperti mau menerkam ketika bertemu Shiva atau Azam padahal setelah dekat kucing itu hanya ingin menggigit pelan atau mengusap-ngusapkan kepalanya kekaki anak-anakku, kadang tiba-tiba tiduran dipangkuan Shiva atau Azam, dia tidak mau kedepan rumah karena dia takut dengan suara motor atau mobil yang kenalpotnya berisik, dia takut dunia luar dan lebih sering diam didalam atau dibelakang rumah yang sekelilingnya di tembok.

Hingga suatu hari secara tidak sengaja kucing itu keluar mengikuti Azam yang mau bermain dirumah tetangga, kucing itu ditangkap sama anak tetangga dan aku tidak tahu kucing itu dibanting atau dilemparkan, karena aku pernah melihat anak itu sangat sadis memperlakukan kucing, sehingga ketika aku tahu kucing itu ditangannya aku suruh Shiva untuk mengambilnya, malam itu entah apa yang dirasa tidak seperti biasanya, kucing itu tidak mau makan hanya minum sedikit, begitupun besoknya hari selasa yang aku ingat kucing itu murung dan hanya tidur tidak mau diajak bercanda, ketika ada orang mendekat dia hanya pergi dan melanjutkan tidur kembali, yang aku lihat hanya minum yang dia mau, hari rabu masih seperti itu dan kondisinya mulai lemah, Shiva dan Istriku mulai panik dan mencari informasi untuk mengobatinya, hari kamis kami coba membeli bubur kucing dan memaksanya makan dan minum dengan membuka mulutnya, sedikit berhasil ada makanan dan minuman yang masuk namun beberapa menit kemudian semua itu keluar lagi, Shiva nangis melihat kondisi kucing kesayangannya seperti itu, sementara aku dan Istriku hanya berharap ada keajaiban dari Allah supaya kucing itu bisa sembuh, karena saat itu kami melihat mata kucing itu sudah berair sebelah dan sudah pucat warnanya.

Jum'at 16 Maret 2018 kucing itu hanya bisa tidur dan sekedar untuk berjalanpun susah, aku hanya bisa melihatnya tanpa bisa melakukan apa-apa, Shiva menangis tersedu-sedu dan hal itu yang membuatku sedih, sekitar jam 14:00 kucing itu bangkit kemudian jalan terhuyung-huyung dan seperti mau muntah, tapi tidak ada yang keluar kemudian dia tidur lagi disamping Shiva, 5 menit kemudian Shiva menjerit dan bilang Ucrit meninggal kepalanya tiba-tiba oleng kemudian kaku, saat itu aku sebenarnya sedih tetapi berusaha menghibur Shiva yang baru kehilangan kucingnya, kemudian aku menguburkannya didepan rumah ditutup dengan kain kecil selimutnya dan diiringi rintik hujan, Shiva berkata sebelum kucing itu dikubur sambil memegang kepalanya "Ucrit semoga kita bisa bertemu kembali disurga"

Kejadian itu yang mengubah jalan pikiranku saat ini, aku yang selama ini membenci kucing, tidak perduli dengannya dengan kejadian itu sekarang lebih perduli dengannya, sepertinya Ucrit dikirim oleh Allah untuk menyadarkanku bahwa menyayangi bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi kesemua mahluk ciptaan Allah, Allah Subhanahu Wata'ala yang bisa membolak-balikan hati manusia, tidak perlu mengirimkan orang besar Kiyai atau Ustadz untuk mengajarkan aku cara menyayangi binatang, cukup dengan mengirimkan kucing kampung, kecil, hitam dan biasa saja, sudah membuatku sadar, bahwa selama ini aku sering kasar terhadap kucing, sedangkan Rosulullah saja pernah memotong sorbannya hanya karena kucing beliau sedang tidur diatas sorban yang mau beliau pakai dan beliau tidak mau mengganggu kucing yang sedang tidur itu, satu hal yang baru ku sadari setelahnya bahwa semenjak ada Ucrit tidak ada Tikus yang berani berkeliaran dihalaman belakang rumahku hal itu berbeda dengan dahulu saat belum ada Ucrit atau saat ini setelah Ucrit tidak ada.

Tangisan anakku Shiva seolah-olah menyayat hatiku.. dan meluluhkan hatiku yang keras.. tidak pernah aku merasakan sedih seperti ini ketika ada binatang peliharaanku mati, kematian Ucrit juga telah mengubah kebiasaan anakku Shiva yang kadang suka melawan kepada Ibunya, saat itu aku bilang jika ingin bertemu Ucrit di Surga salah satu pintu Surga ada yang terbuka hanya untuk anak yang berbakti terhadap orang tua, Shiva sepertinya mengerti dan sekarang sudah mulai nurut dan mau membantu Ibunya, tapi kenangan tentang Ucrit takkan pernah hilang darinya dan menjadi kenangan yang indah untuk diceritakan kemudian hari, bayangan Ucrit si kucing kecil, hitam, gesit dan lucu akan terpatri diingatannya, mungkin saat ini dia belum bisa Move-on dari kucing itu, terkadang dia memanggil namanya ketika dia melihat kandangnya atau kasurnya, Ucrit akan tetap menjadi nama yang akan kami ingat karena Ucrit adalah Sebuah Nama Yang Merubah Pandangan, Jum'at 2 February 2018 diketemukan Jum'at 16 Maret 2018 Mati

Wednesday, April 16, 2008

My Second Story

Setelah sebelas bulan aku menikah, Alhamdulillah Alloh SWT memberikan kepercayaan kepada keluargaku untuk mempunyai anak, selama kehamilannya istriku tidak pernah meminta hal-hal yang aneh seperti kebanyakan orang biasa menyebutnya "Ngidam", tetapi istriku tidak pernah sekalipun meminta sesuatu yg menurutku aneh "ga semua orang begitu kali ye...!" padahal aku sering bilang pada istriku "kalo mau sesuatu bilang aza, selama aku mampu, akan aku usahakan" (ceritanya perhatian sama istri nih..! hehe...).

Saat istriku hamil aku suruh dia baca2 buku tentang kehamilan, buku2 tentang mengurus anak dan tidak lupa berdo'a supaya dilancarkan segala urusan. ketika usia kehamilan istriku menginjak masa 7 bln aku sering bilang "nanti kalo melahirkan kamu jangan panik" (padahal aku juga tau hal itu dari buku) istriku cuma bilang "aku bisa tenang kok".

Suatu hari istriku sakit perut katanya bayiku nendang2 terus, akhirnya lupa deh yang namanya tenang "maklum anak pertama" sekitar jam sebelas malam dengan panik aku bawa istriku ke RS, tetapi karena istriku melihat aku panik eh... dia ikut2an panik, jadinya yang seharusnya bisa melahirkan normal jadinya Cessar deh...!

Selama menunggu proses melahirkan aku ga bisa tenang, apalagi pas denger istriku teriak aku sangat sedih, waswas dan bingung harus berbuat apa..! untungnya dokter buru2 ambil tindakan operasi dan tepat jam 4 pagi anakku lahir, dokter ngsih tau kalo anakku Perempuan segera aku hampiri anakku aku Adzan didekat telinganya dia, bukan main senangnya hatiku saat itu apalagi pas denger istrikupun selamat, sampe sekarang aku masih inget hal itu.

Ada hal yang membuatku lucu, ceritanya gini: dulu istriku pernah di USG tapi posisi kelamin anakku ga begitu jelas keliatan, dokter bilang anakku laki-laki makanya aku dan istriku sudah mempersiapkan 5 nama anak laki-laki, eh.. ga taunya yang lahir perempuan.. ya ketika ditanya bagian administrasi untuk dibuatkan surat keterangan lahir aku kelabakan, soalnya aku belum nyiapin nama perempuan buat anakku, akhirnya akupun keluar dari ruangan Administrasi tersebut lalu bertanya pada istriku nama anak kita siapa? kami berdua hanya bengong ga tau mau ngasih nama siapa, saat itu langit begitu cerah ketika kulihat dari jendela kamar dan akhirnya karena langit itu pula aku terinspirasi untuk memberi nama anakku "Shiva Azura Ananindia" yang kalo dilihat dibuku sih artinya lagit biru yang mempesona kalo Ananindia itu nama singkatan kami berdua. hehehe.. akhirnya dapat juga nama buat anakku.

Thursday, March 27, 2008

My First Story

Suatu hari aku ditelepon tanteku yang dibekasi, karena sudah begitu lama aku tidak pernah main kerumahnya mungkin tanteku dan keluarganya kangen kali, akhirnya hari sabtupun tiba akupun main kerumah tanteku, tanteku punya anak 3 cewek 1 dan cowok 2

Anak pertama tanteku namanya Eva dan dia sekarang sudah kerja, aku dan Eva lumayan deket sih kadang-kadang kami saling curhat, namun ketika Eva tanya soal pacar aku jawab “belum punya!” emang sih ketika itu aku blom punya pacar soalnya masih seneng sendiri, walaupun kadang-kadang ingin juga sih punya pacar.

Tanpa diduga sebelumnya siEva bilang “mau ga aku enalin sama temen aku?” Boleh kataku! Terus Eva ngasih nomor HP temenya itu untuk aku hubungi, tapi aku bingung harus mulai dari mana! Akhirnya aku punya akal, aku coba aza kirim SMS dan pura-puranya aku temen dia waktu sekolah, berawal dari SMS aku coba memberanikan diri untuk telepon yang kebetulan telepon dikantorku bebas (Biasa manfaatin pasilitas yang ada hehe…) setelah sekian lama telepon-teleponan akhirnya kami janjian untuk ketemu, oh iya.. hampir lupa nama dia “Yuli” kami bertemu diMM setelah berkenalan sambil ngajak dia makan kami ngobrol ngaler, ngidul, ngulon & ngetan (istilah orang sunda) lalu waktu sudah menunjukan jam 21:00 akhirnya aku antar dia pulang.

Kesan pertama sih biasa-biasa aza, kami sering SMS, telepon & ketemu tapi hubungan kami hanyalah sebagai temen ga lebih, sampai suatu waktu aku dan dia diundang pesta tahun baru 2003 oleh temen kerjanya dia dan kamipun datang kepesta tersebut, ternyata disana sudah banyak temen-temennya dia menunggu dengan pasangan masing-masing, mungkin hanya aku dan dia yang statusnya Jomblo kali yeh…! Tapi entah apa yang terjadi saat itu aku tertarik sama dia, saat ada kesempatan aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku padanya, seperti nemu durian runtuh (sakit kali kalo ketiban…!) diapun menerima untuk menjadi pacarku, sebenernya sih dia dah beberapa minggu ini sudah tertarik padaku tapi namanya juga cewek kadang ga berani ngutarain isi hatinya (biasalah jaga gengsi biar ga disebut murahan).

Akhirnya kamipun pacaran selama 3 tahun setelah itu kamipun memutuskan untuk menikah, sekarang sidia sudah menjadi Istriku, itulah sepenggal cerita tentang aku dan istriku.